wisata Ketep-i kota Magelang

aliran air terjun Ketep

Pekan lalu, 16 November 2012, saya dan teman saya Agry pramita, melepas hari libur kami dengan berkunjung ke sudut kota Magelang atau tepatnya didaerah Ketep. Tujuan kami kesana yaitu selain ingin mengetahui wujud air terjun Ketep yang kerap kami dengar dari teman-teman, juga untuk mengasah seni fotografi kami untuk sekedar memotret keindahan alam dan keanggunan air terjun tersebut. Hari itu jum’at, dan masuk kedalam jejeran long weekend, dimana sehari sebelumnya (kamis) hingga hari minggu didepannya para pegawai kantoran diberikan waktu untuk merenggangkan otot badan dan merefresh otak sejenak, dengan berlibur. Dan Jogja sebagai daerah tujuan wisata, tidak luput dari sasaran para penikmat libur. Kami yang menyadari hal itu, akhirnya mencoba mengurangi sedikit populasi Jogja dengan melakukan perjalanan menuju daerah tepi kota Magelang.

Perjalanan yang mengambil waktu satu setengah jam dari kota Jogja ini, kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor milik teman saya (Agry), sejenis scuter matic bermerk Scoopy. Perjalanan sangat mengyenangkan karena motor matic yang kami naiki terasa sangat santai untuk perjalanan datar dan mendaki, juga daerah Sleman yang kami lewati cukup menawarkan udara sejuk nan segar, ditambah lagi kami memulai perjalanan dari pukul 8.00 pagi, tentu matahari belum begitu panas, dan langit masih biru mempesona.

Kami mengisi perjalanan dengan percakapan yang mulai dari persoalan ringan hingga berat, dan tak sadar kami telah memasuki wilayah Jawa tengah. Bermodalkan pengetahuan teman saya (Agry) yang baru pertama kali berkunjung kesana, kami pun mulai mempertimbangkan arah, dan akhirnya memutuskan untuk bertanya dengan tukang parkir yang kami temui ditepi jalan. Kami mengikuti instruksi sang bapak, setelah yakin betul dengan jalan yang akan kami tempuh. Terpilihlah sebelah kanan jalan, tepatnya gang sebelum klenteng (saya lupa apakah gang itu ada namanya atau tidak) yang dapat dengan mudah kami temui di tepi jalan Magelang. Setelah kami memasuki jalan tersebut, hamparan sawah dan udara sejuk semakin terasa, inilah suasana negeri ditepi kabupaten Magelang. Sesuai recana, kami memesan dua bungkus nasi padang dengan lauk rendang dan telor dadar, untuk dimakan nanti saat tiba dibawah air terjun Ketep.

Kami menyusuri jalanan yang semakin menyempit, jembatan gantung, juga tanjakan tikung khas pegunungan, dan akhirnya kami menyatu dengan badan jalan yang sedikit luas. Dan mengantarkan kami ke desa Ketep.

Sepanjang jalan, kami dapat menikmati indahnya pohon cemara, suguhan pointview kota Magelang, dan juga rindangnya pohon yang menyatu dengan bukit yang sangat luas. Sungguh irama desa pegunungan yang harmonis, persis yang sering saya lihat distasiun tv. Tak sadar dengan hipnotis indahnya alam, ternyata kami sudah tiba di kawasan air terjun Ketep. Setelah membayar karcis sebesar Rp. 7.000,- dengan rincian Rp. 3.000 perorang dan Rp. 1.000 untuk parkir motor, kami pun memulai perjalanan kaki dengan rute menurun. Sepanjang jalan pengunjung tidak perlu khawatir jika kelaparan, beberapa warung buka untuk menyediakan menu mie instan hangat, nasi goreng, bakso, hingga minuman sejenis teh dan kopi dengan harga yang relatif murah, Rp. 5.000 saja.

Diujung jalan, pengunjung masih dipencar menuju dua arah yang berbeda, kiri untuk pengunjung yang menginginkan wisata bagian atas air terjun, dan kanan untuk wisata bawah air terjun. Dan kami memilih kanan. Catatan buat kami, gunakan sendal gunung atau sepatu yang memiliki cakram kuat. Karena jika tidak, lutut yang harus menahan badan saat alas kaki tidak mampu menahan tanah yang licin dan terjal. Kami sadar, rute kali ini tidak bisa dipandang sebelah kaki, lumayan susah dan licin. Ada susah, ada suka, dan semua itu terbayar dengan bentangan indah panorama nan hijau di bukit sana.

Mata memang menjanjikan, tapi perut adalah sumber kepastian, kampung tengah menagih jatah. Makan maaaakkk……. dan berdo’a….mulai.

Selepas makan, kami memulai pengasahan ilmu kami tentang teknik low exposure. Tak ada berapa menit bagi saya untuk belajar, karena lagi, energi untuk difoto meningkat riang dan mengalahkan niat awal. Haajar dehh…

low exposure yang coba dipelajari. hanya saja belum sempurna

bidadari tepi air. hahah

Pancuran air terjun Ketep. Found heaven inside the jungle.

the tracker

Puas menikmati air terjun Ketep yang sejuk, puas menikmati hasil jepretan di Monitorkamera, puas menikmati hijaunya hamparan bukit, dan langit yang semakin gelap dimusim hujan, akhirnya kami kembali pulang yang mana rute kali ini adalah pendakian. Oh tuhhaaaaannn……

Nasi putih + telor dadar dan pergedel kentang yang tadi saya lahap, bergeser posisi dan menyisakan ruang didalam perut dan menyebabkan lapar. Karena hari terlanjur hujan, kami mampir sebentar di warung kayu sembari saya memesan semangkuk Pop mie. Kami sadar hujan tidak akan berhenti berkarya dalam waktu dekat, dan kami memutuskan untuk menempuh perjalanan pulang dalam kondisi basah, setelah sebelumnya kami membungkus tas kamera kami dengan berlapis kantong plastik.

Jalanan padat merayap. Hujan semakin kuat. Langit menjelang pekat. Dan akhirnya kami tiba senja hari di kota Jogja yang semakin padat. Itulah kisah saya dan teman saya wisata Ketep-i kota Magelang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s