Goes to 24th

Tulisan biasa ini akan mengulas sedikit kisah singkat bagaimana aku menghabiskan usia 23 ku, diakhir tanggal 30 oktober ditahun 2012. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya dimana aku menghabiskan malam pergantian usia dengan mendengkur diatas kasur, yang sesekali mengangkat henpon untuk sekedar menjawab panggilan atau hanya membaca sms untuk dibalas pagi harinya, dan pada tahun ini ada sedikit cerita yang akan aku kisahkan.

29 oktober 2012

Beberapa jam sebelum tengah malam, atau tepatnya pukul 7.30 malam aku dan kekasihku (gunawan) sudah berada diatas kereta api bernama Gajah wong, untuk melakukan perjalanan dari Stasiun Lempuyangan Jogja menuju Jakarta. Misi kami kali ini bukanlah ingin merayakan pertambahan usiaku dikota yang pada saat ini dipimpin oleh pak Jokowi, melainkan untuk menjemput keluarga baru.

Gambar 1. Diambil disisi kanan kereta Gajah wong sebelum keberangkatan

Gambar 2. Saat berada dikereta. Beberapa menit sebelum keberangkatan

Kereta bergerak mundur hingga tepat pukul 5.00 dini hari, akhirnya aku dan kekasihku menepi distasiun senen disudut mananya Jakarta, aku pun bingung.

30 Oktober 2012

Perjuangan membunuh waktu dengan uang pas-pasan pun dimulai. Aku dan kekasihku mengawali hari ini dengan membersihkan diri di toilet berbayar di stasiun dan kemudian mengisi perut dengan semangkuk soto hangat dan sebotol aqua 1,5 liter. Jakarta mulai menunjukkan gelagat tidak ramah, uang Rp. 50.000 yang tadi dimiliku kekasihku kini hanya bersisa Rp. 15.000. Jakarta benar-benar tidak ramah, kutukku saat itu.

Kami berjalan keluar menuju pasar senen, yang bunga mawar satu pasar kembang pun kalah semerbak dengan aroma pesing sisa-sisa sopir angkot/bus di terminal, auuukkhhh….rasa terhapus dosa menciumnya. Asik berjalan akhirnya aku dan kekasihku merebahkan bokong diatas batu taman didepan Atrium plaza, sambil berharap plazanya sudah buka, tapi sayang….Do’a kami tidak didengar Tuhan. sadar bahwa Tuhan tidak mendengar do’a kami, akhirnya aku dan kekasihku kembali berjalan kearah timurutaraselatanbarat, aku pun bingung tapi tiba-tiba saja kami sudah berada didepan Rumah sakit Gatot Kaca kalau tidak salah, kalau salah berarti Gatot Subroto.

Halaman rumah sakit menyediakan taman rindang dan tempat duduk semen yang mengelilingi setiap pohonnya. Itu surga kawaaan. Aroma debu, matahari pagi yang terik, bisikan motor surgawi, juga bidadari akper berbaju putih, juga bangunan megah yang aku dan kekasihku kenal dengan Rumah Tuhan, setidaknya jauh lebih baik dari pada satu petak sofa di warung dekat terminal senen. do’a ku didengar tuhan, aku menemukan surga di Jakarta. Tak lama setelah diskusi singkat dengan mengandalkan mata 5 watt, aku dan kekasihku setuju untuk masuk ke dalam rumah tuhan yang megah. Niat aku dan kekasihku tulus, suci, aku dan kekasihku hanya ingin menumpang istirahat, mengganti 12 jam kedinginan di atas kereta malam ber-Ac dengan sedikit istirahat. Alhamdulillah, jarum pendek yang tadinya di angka 7 berganti hampir 10. Hooaahhhmm…  Kekasihku sangat perhatian, dia tak terpicing barang semenit demi mengusir semut yang mungkin saja akan mengerubungi air liurku. Dan semua itu dipantaunya dari saf pria.

Terbangun sempurna, akhirnya aku dan kekasihku melanjutkan perjalanan kembali menuju Atrium plaza yang sudah buka. Bosan memang sifat masyarakat negara berkembang, akhirnya kami keluar dan memilih pasar senen lantai 3 sebagai tempat pelabuhan. Disana aku menunggu keluarga baruku, dengan sesekali mengetik sms membalas pesan pacar temanku yang akan membawakan keluargaku yang baru. Hingga tepat pukul 12.45 menit, keluarga baruku datang.

Gambar 3. Keluarga Baru. Nikon D3200

Ini keluarga baru yang aku maksud. Datangnya sehari sebelum umurku 24. Jakarta mendadak indah. Pasar senen serupa ladang bunga, terminal yang tadinya menyebar aroma pesing mendadak wangi sewangi bunga tujuh rupa. Debu jalanan serasa embun pagi yang bersih di pegunungan, lembut kawaaaan, hanya saja…orang-orang yang berselisihan terlihat seperti perampok papan atas. Luar biasa efek yang dihadirkan keluarga baruku.

Kedatangan aku dan kekasihku ke Jakarta tidak serta merta hanya ingin menjemput keluarga baruku, tetapi juga menjemput keluarga kekasihku. Dari pekanbaru mereka diantar Lion air menuju bandara soekarno-hatta Jakarta, lalu bus Damri dengan hangat menjemput mereka dan mengantar hingga stasiun Gambir, sampainya disana mereka diarak Kopaja menuju stasiun Senen, sekitar pukul 3 sore kami dipertemukan, alhamdulillah. Aku sayang kekasihku, aku sayang keluarganya, begitupun mereka kepadaku. Geeeeeeerrr…

Kedatangan keluarga kekasihku dari Pekanbaru menuju Jogja tak lain adalah untuk menghadiri acara wisuda kekasihku yang akan berlangsung pada tanggal 1 november. Lintas sumatera yang tidak memiliki kereta api mengundang keinginan adik-adik kekasihku untuk mencoba kereta api yang ada di Jawa. Alhasil, semenjak bertemu pukul 3 tadi, kami harus rela mengikuti jadwal kereta Progo yang baru akan berangkat pukul 8.30 malam. Subhanallah buat aku dan kekasihku yang sudah menunggu dari subuh.

Akhirnya pukul 8.30 tiba. Sadar bahwa penumpang kereta api Progo bukan hanya kami berlima, kami semua menyegerakan diri untuk masuk kedalam stasiun lebih awal.

Gambar 4. Sebelum keberangkatan menuju Jogja. Kiri (dek hari, aku, bu tin, budi)

Gambar 5. Kiri (aku, calon ibu mertua, kekasihku)

Sesuai prediksi, kereta ekonomi Progo yang kami naiki penuh sesak dan sangat panas, tapi lebih baik daripada menaiki kereta api Ac untuk keberangkatan malam, aku dan kekasihku sangat benci dingin. Benciihh.

31 Oktober 2012

Tepat pukul 00.35 aku terbangun dengan bunyi sms. Sepasang mata jenaka menyapaku dengan iringan lagu ulang tahun yang dinyanyikannya untukku. Aku tidak akan mengharapkan hadiah semewah dan sebesar apapun, karena hati tulus yang saat ini menemaniku diatas kereta ini sudah sangat lebih dari kado apapun. Kutunggu sampai kekasihku menyudahkan lagunya, selain senyuman dan hati berbunga, tak ada lagi yang bisa aku uraikan. Terima kasih ya Allah. Kemudian calon ibu mertua (bu tin) menghampiri bangkuku, dengan segenap ucapan dan do’a, beliau ikut mengisahi hari ulang tahunku. Hangat. Menyusul ucapan ulang tahun dari budi (adik kedua kekasihku).

Langit masih gelap, Jogja masih jauh diujung rel sana, rentetan sms masuk ke inbox henpon ku hingga menimbulkan suara. Aku tersenyum membaca pengirimnya, dari sahabat yang mengisi hidupku lebih dari 6 tahun, hingga umurku 24 tahun, kami masih berbagi suka dan duka bersama, dia Agry pramita. Disusul teman-temanku yang lain dan juga 3 panggilan tak terjawab dari seseorang yang dulu diizinkan Tuhan mengisi hatiku.

Wangi jogja semakin dekat, langit sudah sangat terang dan kami masih diatas kereta meski kereta sudah sangat sepi. Aku dan kekasihku beringsut menempati kursi tempat keluarga kekasihku duduk. Kesalahan pemesanan tiket yang membuat kami duduk berjauhan. Disana ayah kekasihku menyalamiku dengan ucapan tulus nya, Selamat ulang tahun. Juga adik bungsu kekasihku. Kereta mengantarkan kami ke Jogja, lengkap, dan semakin lengkap dengan masuknya panggilan telpon dari kedua orang tuaku, tepat saat kereta progo yang kami tumpangi akan memasuki stasiun terakhir, Lempuyangan. 7.00 pagi kereta berhenti  di stasiun Lempuyangan Jogja. Alhamdulillah buat kehidupan yang sangat manis ini. aku mengakhiri 23 dengan orang-orang baru yang dikirimkan tuhan untuk melengkapi tugasku didunia, dan aku menyambut 24 ku dengan keluargaku yang senantiasa mendoakanku meski mereka jauh di sana. Kututup panggilan dari kedua orang tuaku, kupikul tas yang menjadi tanggung jawabku, dan kuinjakkan kaki di Jogja yang ramah. Aku 24.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s