Being active isn’t enough (panduan sederhana buat mahasiswa S2)

Gambar. Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Budaya UGM angkatan 2011

Tiga minggu sudah perkuliahan mahasiswa baru pascasarjana ilmu sastra berlangsung. Sejauh ini, aktivitas masih ditandai dengan ritual pembelian buku, membayar buku, menyampul buku, dan tetek bengek kosan baru, dan untuk kosan sendiri tidak akan banyak dibahas didalam “amuk-amuk kata” ini. Pascasarjana berarti tingkat pendidikan yang ditempuh setelah sarjana, dewasa lebih gampang menyebutnya dengan S2.

Sekilas teringat salah satu trik sukses untuk menempuh kuliah di S1 adalah mahasiswa dituntut untuk menjadi aktif. Aktif membaca, aktif menulis, aktif bertanya, aktif mempresentasikan hasil makalah, aktif memfotokopi catatan teman, aktif begadang semalam sebelum ujian, aktif ikut kegiatan keorganisasian (bahkan dikampusku, mahasiswa baru wajib magang selama enam bulan di salah satu UKM Universitas untuk bisa dapat piagam BAKTI, salah satu persyaratan wajib untuk wisuda, bujubune) dan aktif mendekati dosen untuk sekedar sapa ramah atau aksi “jilat-jilat padllepop”. Hidup aktif demi masa depan yang cerah pokoknya. Lalu apakah sama dengan perkuliahan di S2?

Ya, lebih kurang sama. Bedanya tipis, tipiiis banget. Setipis batas antara sukses dan gagal. Setipis pembalut wanita yang kalau gak hati2 bisa bikin tengsin seharian, setipis baju musim panas cewek amerika yang ditiru mentah2 sama cewek Indonesia (kalau gak gaya, ya malapetaka), setipis jembatan titian penghubung surga dan neraka (kaleeeek). Dengan kata lain, jurus aktif di S1 masih bisa kita aplikasikan di S2 hanya saja dengan menambah sedikiiiit lagi usaha biar bisa ngomong pede didepan kelas yang isinya mahasiswa berlatar belakang  dosen, mahasiswa Cum-laude peraih beasiswa unggulan, mahasiswa daerah yang punya niat belajar tingkat dewa demi membangun nagari kito nan jauah dimato, dan mahasiswa candu ilmu yang melahap sastra selahap anak muda hedon melahap beef steak teriyaki plus tenderloin (ajeeeeeb gilak). Disini yang kita sebut persaingan ilmu pengetahuan dipertunjukkan.

Selama tiga minggu ini, mahasiswa-mahasiswa ini tidak akan menanyakan IPK kamu berapa (karna standar universitas dalam memberi nilai tak selalu sama), dan tidak pula menanyakan kamu anak siapa, asal daerah kamu dimana, tapi mereka akan menanyakan kamu tamatan mana? Apa nama Universitas yang mengeluarkan ijazah S1 mu? Dan berapa grade universitasmu dimata nasional? Itu yang mereka jadikan patokan dalam menilai sejauh apa tingkat intelejensiamu. Bisa jadi kamu berasal dari sebuah kampus yang bahkan nama kampusnya baru kali pertama mereka dengar, meski kamu sudah menyebutkan lengkap-lengkap nama kampus, alamat, kecamatan, provinsi, bahkan kodepos nya sekalian. Baiklah, kita lupakan penilaian orang. Mau baik, mau buruk, mau miring, mau sumbing, toh yang tau baik buruknya kita yang menjadi almamater tentunya. Tapi benar, patokan ada pada background S1 kamu dari mana.

Pemikiran seperti itu baiknya singkirkan jauh-jauh. Yang perlu kita pikirkan adalah atur rencana, perluas link, dan mulai hidup hemat.

–          Atur Rencana, Berapa lama kita mau menghabiskan waktu di bangku kuliah. 4 tahun? 5 tahun? 2 tahun? Atau 1 tahun 8 bulan?. Semuanya tergantung niat dan usaha. Jika mau tamat dengan waktu tersingkat, mulai dengan disiplin keras pada diri sendiri dan berbuat sebelum orang lain memikirkannya (moto semen padang). Baca 1 buah buku satu hari, menulis jurnal atau review (film, buku teks, komik, novel) sehari minimal satu, minum susu pagi dan malam, perbanyak makan protein hewani dan nabati, olahraga minimal 30 menit sehari, dan perbanyak ibadah. Semua harus ada dalam list aktifitas harian kamu.

–          Perluas Link, apa salahnya memilih berteman dengan teman sekelas yang usianya jauh diatas kita. Kalau mau diomong blak-blakan, setua bapak kita. Tidak ada salahnya karena dari segi pengetahuan dan pengalaman kamu tidak ada apa-apanya. Jangan pernah sombong, diatas langit masih ada langit. Sebagai anak perantauan, ada baiknya kenali daerah sekitar atau minimal tau tempat fotokopi dan print paling murah, tempat laundry wangi bersih harga miring, tempat jual buku2 harga diskon, tempat makan murah meriah muntah, atau sekedar warnet yang koleksi film di Pc nya lebih update dari cinema XXI.

Banyak tau seminar-seminar yang berhubungan dengan bidang yang lagi kamu geluti, international maupun nasional apalagi international dan gratis pulak (naaah…). Bergaul dengan Himpunan mahasiswanya, tapi jangan terlalu aktif jika kamu tidak masa kuliah kamu selama masa kuliah anak S1. Minimal dari membangun link seperti itu, kamu bisa tahu tempat2 kos murah yang nyaman, atau bahkan info penting sekelas beasiswa S3 keluar negri. Bisa jaadi looh… jangan sepelekan.

–          Mulai hidup hemat, hemat pangkal kaya. Mau kaya? Makanya hemat. Tapi buat anak sekelas S2, hemat adalah harga mati. Teruntuk yang kuliahnya masih mengandalkan beasiswa dari Yayasan Ayah Bunda atau Bank Mandiri (bayar sendiri). Jika kampus adalah agamamu, maka buku adalah tuhanmu. Dipuja2, disembah, disanjung, disebut, dimiliki, dan untuk memilikinya tentu saja kamu butuh uang. Bwahahahahaha…. Memilah dan memilih yang mana prioritas yang mana yang nafsu ababil. Yang mana yang ekonomis, yang mana yang praktis. Yang Kfc, dan warung sekelas kakilima. Karna biaya hidup dan segala bentuk pengeluaran di S2, jelas sangat2 berbeda dan mahal. Untuk itu kita harus menabung.

Menjadi aktif saja tidak cukup, kita dituntut untuk menjadi produktif dan disiplin. S2 bisa jadi jembatan buat kamu kepada pengetahuan, gelar, kepatuhan pada ilmu pengetahuan, bahkan masa depan yang lebih cerah. Jangan ada kata bosan untuk menuntut ilmu, dan jalan yang kamu pilih adalah jalan yang lurus. Selalu ada buah yang manis, untuk usaha yang sedikit sadis. Tetap semangat!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s