“Kuasai bahasa maka kamu dapat mengasai dunia”

Saat itu saya berumur tak lebih dari delapan tahun dan baru duduk di kelas tiga SD. Terkejut saat pulang sekolah, terlihat halaman rumah penuh dengan mobil tak tahu punya siapa karna saat itu orang tua saya belum mampu membeli mobil. Masuk ke ruang tamu barulah saya tahu bahwa datuk saya yang tinggal di Malaysia dan beberapa saudara yang tinggal di jalan Pelajar, datang. Selesai maghrib, saya bercengkrama dengan datuk Azik (nama beliau) tentang sekolah, prestasi, dan tentang cita-cita. Sampai akhirnya diskusi itu terhenti dengan sebuah kata-kata sakti yang baru dewasa ini saya mengeri maksudnya, “Kuasai bahasa maka kamu dapat menguasai dunia”.

Dewasa barulah saya tahu apa artinya, setelah mengabaikannya bertahun-tahun. Tak pernah terpikir oleh saya untuk kursus bahasa saat masih duduk dibangku sekolah. Tahun terlewat dengan hanya mengenyam pendidikan formal dan fokus terhadap tuntutan kurikulum dinas pendidikan, bukan tuntutan zaman ataupun haus akan hal-hal baru. Disekolah, saya belajar bahasa Arab selama tiga tahun. Tapi sekali lagi, hanya sekedar tuntutan kurikulum. Sekedar percakapan sederhana dan kosakata keseharian yang tidak pernah lagi saya praktekkan sejak menamatkan studi saya di sana.

Di SMA pun saya pernah masuk English club dan termasuk kedalam list anak yang lumayan cakap disana, grade saya yang tertinggi. Hal ini yang mendorong ibu saya gigih memasukkan saya di LBBA LIA selama dua grade saja. Karena saya selalu telat daftar ulang dan selalu kebagian kelas malam. Hubungannya? Ya karna jarak tempat les dan rumah sangat-sangat jauh. Kalau siang saya bisa pulang sendiri, tapi kalau malam yang jemput suka makan hati. Sedikit menyesal memang, karena saya sangat menikmati belajar disana. Muridnya ramai dari berbagai kalangan, tapi memang biayanya sedikit mahal. Tampak jelas orang berlomba-lomba untuk dapat menguasai bahasa dengan berbagai tujuan. Lagi, proses pematangan diri dalam penguasaan bahasa harus terputus.

Sampai saya di bangku kuliah. Gagal melanjutkan mimpi untuk menjadi Astronom dengan alasan orang tua yang tidak setuju, akhirnya saya memilih jurusan kedokteran dan sastra inggris di ajang SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) 2006. Lulus di pilihan kedua. Bertemu mata kuliah Bahasa perancis (salah satu mata kuliah wajib) yang sempat mengenalkan saya dasar-dasar bahasa perancis, dan lagi, berhenti sampai empat SKS saja. Masih di bangku kuliah, berkat kursus promo yang diadakan SATNUSA saya bisa belajar bahasa mandarin dengan biaya yang sangat-sangat murah. Sekali lagi, berhenti di 30 kali pertemuan karna promo sudah habis. Hiksss…

Arab, Prancis, dan Mandarin, Semua saya pelajari seperempat-seperempat. Kecuali Inggris karena memang saya masuk jurusan Sastra inggris. Orang yang tahu akan berfikir buang-buang waktu saja toh satupun tidak ada yang benar-benar bisa dikuasainya. Dan saya pun berfikir demikian. Buku tebal-tebal bersarang laba-laba, kamus bagus karena tidak lagi sering dibuka, juga kosakata yang dulu sempat disalin dalam catatan mini sekarang jadi pajangan didalam kardus. Nyaris terbuang.

Tapi ternyata saya salah. Pengalaman berkata lain saat saya berlibur ke Malaysia dan Singapura. Untuk sekedar menanyakan alamat dan letak sebuah objek wisata, saya bisa diandalkan. Not too bad, we could handle it without a guide. Mudah saja, toh budaya mereka juga masih sebelas duabelas dengan Indonesia, khususnya melayu.

Lagi, pernyataan saya ternyata salah. Berkat izin Allah, tahun 2008 saat berumur genap 20, saya dan kakak diizinkan untuk sampai di tempat dimana budaya Islam berkembang, untuk berhaji. Subhanallah Ya Allah, pengalaman yang tiada duanya. Disanalah saya bertemu orang dari berbagai Negara, berkumpul dengan tujuan yang insyaallah sama, menyempurnakan rukun islam yang terakhir. Disinilah kedewasaan hadir, kesabaran diuji, dan kenangan akan dosa dimasa lalu di tampakkan dan dievaluasi hendaknya. Dan disini pula petuah dari datuk terbukti benar. Meski yang saya alami hanya dalam skala kecil.

Diawali dari pesawat Garuda dengan layanan kelas satu, pramugari-ra handal yang mereka kerahkandan itu berasal dari berbagai Negara, pokoknya kenyamanan yang mereka utamakan. Saat itu seorang nenek tua beranjak dari tempat duduknya dan menarik perhatian saya yang asik mengamati alam dari jendela pesawat. Pramugara elok asal Korea menyambutnya, “what can I do for you?”, tanyanya. Si nenek menjawab, “dimaaa tampek takanciang? Den nak buang aiaa gadang.”. kontan si pramugara berwajah halus itu berkerut dan memanggil rekannya yang asli Indonesia. “ibu butuh apa ibu??” tanyanya sopan. Dan lagi si nenek mengulang statementnya “dimaaa tampek takanciang? Den nak buang aiaa gadang”. Si pramugari Indonesia itupun kalut, “gag ngertiiii” pekiknya. Sontak aku terbahak. Gak sopan emang, tapi emang kadang saya ini polos banget, suka nurutin kata hati, lucu ya ketawa aja. Mendadak saya yang jadi sentral, grogi dilihatin sama si halus dari korea “nenek ini mau ke toilet” cepat saya jawab. Saya kuliah di daerah dimana bahasa ini berasa, Sumatera barat. Pelajaran yang dapat saya ambil, bahasa yang dimaksud datuk saya tidak terputus oleh bahasa asing yang ada diluar bangsa kita. Indonesia Negara kaya, kenapa kita tidak mulai dari dalam saja. Tak usah paham benar, minimal tahu. Berani taruhan si pramugari pribumi itu tak tahu bahasa dari daerah mana yang dilafadzkan si nenek.

Tiba saya di madinah dan berteman dengan khadijah dari afrika selatan. Mudah saja buat kami akrab karena kami bisa berbahasa Inggris. Shopping asik bersama kakak dengan harga murah, karena memang kakak faseh berbahasa arab dan saya ngerti dikit laaah…Alhamdulillah berkat izin Allah, bahasa yang membantu kami berbaur dengan sesama muslim dari India, Turki, dan berbagai bangsa lainnya. Tapi ini juga buat mereka-mereka yang bisa berbahasa asing.

Di tanah haram, Makkah al-mukarromah, saya berkenalan dengan Fleur dari Prancis. Wanita paruh baya ini senang karena saya bisa memperkenalkan diri saya dalam bahasa ibu mereka. Dia teringat akan putrinya dirumah yang seumuran dengan saya. Berkali-kali ciuman hangat mendarat dipipi saya, jujur risih, tapi senang luar biasa.

Mina, tempat dimana kami menginap beberapa malam untuk setiap tiga harinya melaksanakan rukun haji melontar jamrah aqobah di sana. Alhamdulillah, Arab dan Inggris membat kami bertahan ditengah kondisi hidup sementara tanpa orang tua, meski ada seorang paman, muhrim kami yang menjaga. Beliau ada tapi tidak selalu. Saat berbelanja disana, memaaaang, wanita tak pernah jauh-jauh dari yang namanya belanja. Tapi bedanya belanja kami saat disana, belanja oleh-oleh buat keluarga dan teman-teman. Saya bertemu Abdullah, muslim cina yang berjualan gelang giok disudut jalan. Tertarik dengan ketampanannya, saya mengajak Abdullah berkenalan dalam bahasa mandarin. Karena senang, gelang yang dijualnya kepada orang lain seharga dua riyal, khusus buat saya diberinya satu riyal. Saya tahu untung buat Abdullah sangat sedikit, tapi dia ikhlas karena senang bertemu dengan saya. Alhamdulillah.

Saya belajar banyak hal dari pengalaman saya sebelumnya. Ilmu saya masih jauh dibawah dasar, tapi saya harus bersyukur karena saya bisa belajar dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Memang, diatas hanya contoh kecil dari penguasaan bahasa. Saya yakin dengan kata-kata datuk saya, jika kita dapat menguasai bahasa maka kita dapat menguasai dunia. Tak ada kata terlambat, dan tak ada kata menyerah.

Thank you very much

Syukron jazillan

Xie-xie

Merci beaucoup

(Posted on June 16, 2011. in TongSampahGede.blogspot.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s