Mini-Touring BOROBUDUR

Selayang mari kita alihkan ingatan sedikit kebelakang, Borobudur yang kita kenal merupakan sebuah candi Budha terbesar didunia yang dulunya sempat menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Dunia. Terakhir terdengar ternyata Borobudur tidak pernah masuk kedalam list bangunan/tempat yang masuk kedalam Keajaiban dunia. Apapun itu, kita sebagai warga asli Indonesia patut berbangga karena memiliki Borobudur.

Tulisan yang saya posting ini merupakan catatan perjalanan saya selama saya mengunjungi cagar budaya yang dilindungi UNESCO ini. Hari itu tanggal 10 April 2012 tepatnya jam 8.00 padi WIB, saya diajak teman2 SMA saya dulu untuk mengunjungi candi ini. Dengan beban membolos kelas Metode Penelitian Sastra, kami berempat (aku, nabella, icha, dan daus) memulai perjalanan dengan Bismillah (biar berkah). Dari kota Jogja sendiri, hanya memakan waktu 1 jam-an menuju Borobudur yang terletak di Kabupaten Magelang. Sepanjang jalan mata dimanjakan dengan lahan kosong wilayah Sleman yang masih belum padat penduduk. Memasuki Kabupaten Magelang, akan banyak ditemui pemahat batu yang menjajakan patung dewa-dewi sebagai penghias rumah dan disusul penjual Salak Pondoh.

Motor satria 125 cc yang kami kendarai (sopir, daus) melaju dengan kecepatan standar 60-80 Km/Jam, sementara motor Smash yang dikendarai nabella dan icha melaju memimpin didepan. Udara pagi yang sejuk mengantarkan kami ke Muntilan, daerah pemisah antara lokasi candi dengan jawa tengah. Dari Muntilan, jalan mulai mengalami penyempitan dan sistem jalan satu arah. Hingga Beberapa kilometer berikutnya kami menemukan sebuah objek wisata ,Candi Mendut, yang tampak dari jalan karena candi Mendut sangat kecil dan berhadapan langsung dengan jalan. Disana juga ada sarana olahraga Arung jeram, bagi yang menyukai olahraga body rafting baik pemula maupun profesional, disinilah salah satau rekomendasi tempat paling Top. Meski belum pernah terjun langsung, didalam hati saya berjanji dan bersungguh-sungguh (Heeeboooh) “aku harus coba, haaruus.”.

Memisah dari jalan utama, lokasi Borobudur yang terletak disebelah kiri jalan mulai menampaki plang-plang reklamenya, tanda kami sudah semakin dekat dengan tujuan. Dan sampailah kita dilokasi dengan keadaan cuaca yang cerah dan matahari yang bersahabat. Hanya saja, kendaraan roda dua hanya diperkenankan untuk parkir diluar candi. Dipinggir-pinggir ruko didepan kawasan candi Borobudur. Diawali dengan Banyaknya perental payung yang menawarkan jasa sewa payung dengan biaya rental sebesar Rp. 3000,- yang rata2 dijajakan ibu-ibu berusia lanjut. Sebelum masuk ke cagar budaya ini, kami harus membayar karcis masuk sebesar RP. 30.000,-.  Bagi para pengunjung juga harus melewati stand pemeriksa keamanan (kalau-kalau ada yang mau pasang petasan kali ya?).

Sistem keamanan yang oke, cagar budaya yang terawat rapi, taman-taman dan pohon-pohon sejuk dan membuat suasana menjadi nyaman dan hangat. Karena objek wisata ini sangat terkenal hingga ke manca negara, maka tak sulit untuk menjumpai para turis asing bahkan turis-turis yang sangat bersahabat ini dengan senang hati menyetujui saat kami meminta untuk difoto bareng mereka. Ada yang berwisata sekeluarga, berpasangan, sendiri, bahkan bersama teman “senja” (nenek2 melancong). Tidak hanya kami ternyata, banyak turis domestik yang juga menginginkan untuk dapat berfoto dengan para turis asing.

satu hal yang perlu dicatat sebelum kamu berkunjung ke Borobudur, yang namanya mengisi perut adalah sebuah kewajiban. Bukan sunat muakad apalagi Mubah. Karena posisi stupa yang paling besar itu sangat jauh diatas dan harus menaiki lebih kurang 50 anak tangga. Peraturan untuk tidak menduduki stupa atau bahkan memanjatnya terkadang memang pantas untuk dilanggar. HAHAHAH….bukan kenapa, untuk kepentingan photography, jujur saya melakukannya. Hingga diamuk Satpam. Tau gag sih mitos tentang stupa candi borobudur?  Mitos yang paling terkenal adalah Kunto Bimo, yaitu arca dalam stupa yang konon dapat mengabulkan permintaan. Stupa yang dimaksud adalah stupa sebelah kanan pada teras lingkaran yang pertama. Menurut cerita bila kita berhasil menyentuh bagian tertentu dari arca tersebut sambil mendoakan permohonan, maka keinginan kita akan terkabul. Bagian yang disentuh adalah posisi tangan atau mudra untuk pria, dan telapak kaki untuk wanita. Bagaimana bisa kita yang sudah datang jauh-jauh dan membawa pengetahuan akan mitos tersebut, mengabaikannya dan tidak tertarik untuk mencoba?. Dan bagaimana bisa kita menunaikan mitos tersebut kalau menginjak dinding luar stupanya saja kita dilarang? Pliisss deh pak satpam..

sebenarnya wajar, karena demi pelestarian kebudayaan kita juga. Seharusnya saya lebih dewasa menyikapinya. HOSH. Lelah berkeliling, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Disepanjang jalan kita dihibur oleh para pedagang yang menjajakan jualan mereka ditangan. Disini maan..saatnya lo merasa diri lo jadi orang paling pentiing. Jadi orang hebat yang nasib satu keluarga seolah-olah ada ditangan lo. Bagaimana tidak? Para pedagang itu selalu melontarkan “mbaakk…pelaris mbaak, Cuma 10000 rupiah aja kok mbak. Buat makan anak saya mbak…” nah kan…..serba dosa.

Gag beli                = kita menyia2kan nasib saudara sendiri.

Beli                         = kita menyia2kan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk makan siang dan kalau gag makan lo bakalan mati lemas… dosa ke perut temaaann…

Akhirnya aku terjebak, membeli sebuah stupa budha dengan harga Rp. 10.000,- dan setelahnya ada penjual yang menjajakan barang yang sama dengan harga Rp. 5.000,-. Extremely DAMN….(gigit bibir atas).

Perjalanan diakhiri dengan  membeli batik dipasar ole2 yang ada dikawasan candi Borobudur, dan tetap…makan siang di Pondok Cabe. Alhamdulillah…..kami sampai Jogja dengan selamat dan hati serta pengalaman sejarah ditempat paling bersejarah di Indonesia. Terima Kasih Masa Lalu.

Tips buat kamu yang akan berwisata ke Candi Borobudur :

  1. Jangan lupa makan/sarapan terlebih dahulu, kalau perlu minum multivitamin buat yang darah rendah.
  2. Persiapkan kamera, hendikem, henpon kamera . Karena gag lucu, sudah jauh-jauh ke Borobudur tetapi gag ada dokumentasinya. Dan pastikan juga batrai gadget kamu dalam keadaan full terisi.
  3. Jangan lupa bawa kacamata hitam, payung, kaus kaki. Karena udara bisa sangat menggigit, atau minimal buat assesoris berfoto.
  4. Air minum dan permen. Penambah energi.
  5. Jika ingin belanja assesoris khas Borobuddur, tawar serendah2nya (kalau tega), tawar sewajarnya (kalau mau rugi).
  6. Jika cuaca sangat panas, jaga kondisi badan dengan tidak langsung meminum air kulkas. Bau iikan kaleeekkk…
  7. Terakhir, berwisata itu sangat menyenagkan. Jangan sekedar pergi, setidaknya kamu tau apa yang kamu tengah kunjungi. Maksimalkan wisata dengan mengosongkan fikiran akan rutinitas sejenak.

HIDUP ITU INDAH, dan BAHAGIA ITU SEDERHANA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s