What I’ve learnt for today

  1. Being inconsistent

Sehari sebelumnya (kemarin), aku dan pacar curhat masalah rambut rontok aku yang ampun-ampunan lagi kambuh akhir2 ini. Doi menawarkan buat ke dokter untuk sekedar medical check-up, just too know what happened in me exactly?

Karena ini minggu tenang, dan idealnya minggu tenang ini memang digunakan untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpul satu minggu lagi, maka dengan tegas aku menolak sambil berdecak “satu jam sangat berharga buat aku, bayangkan berapa jam yang harus aku habiskan untuk medical check-up dan sekedar tau aku sakit apa atau salah apa sehingga rambutku rontok gila-gilaan.” Pacarku hanya menjawab “oke”

Sehari setelahnya (hari ini) aku diajak teman dekatku untuk ikutan grebek buku gratis (salah satu “hadiah” yang diberikan Yogyakarta untuk menyambut hari kelahiran sang sultan) sekaligus bertemu Arif pocong yang terkenal banget lewat akun poconggg nya di twitter. Dan aku pergi dari jam 2 siang sampai jam 8 malam. Logikanya, aku tidak konsisten dengan apa yang aku putuskan sehari sebelumnya (tentang satu jam sangat berharga).

Pacarku tidak marah, dia bahkan menemani aku seharian untuk memilih buku-buku import pilihan yang mengulas tentang Amerika. Hanya saja, aku sadar apa yang aku lakukan hari ini. Pribadi yang tidak konsisten itu memang terkadang tidak merugikan, tapi apa kita mau jadi seseorang yang untuk diri sendiri saja dia tidak bisa menentukan keputusan?

2. Kesempatan tidak pernah datang dua kali

Tak pernah terbayang oleh saya yang notabenenya anak sumatera dusun yang boro-boro disana ketemu artis, kedatangan artis aja bisa satu tahun sekali. Tapi inilah jogja yang jelas berbeda dengan dusun saya, hari ini aku bertemu Arif poconggg (artis maan artiss) dan terlibat satu kesempatan untuk berfoto bareng juga obrolan singkat yang isinya:

“suka makan burger juga mas?” Tanya saya

“eh, ini…pengen cari cemilan aja” senyumnya. Senyum cetakan dari surga, maniiis gilak. “tempat makan yang asik dijogja ini dimana ya?”

“yang aku tau jogja itu terkenal dengan Gudegnya mas.”

Sampai akhirnya aku Tanya lagi dan Tanya lagi dan langsung nyelonong pergi. Sindrom gagu ketemu cowok cakep kumat, wassalam buat kesempatan. Karena berikutnya aku dan temanku bekerja keras untuk memulai percakapan dengan si poconggg, sindrom malu-malu tapi malu lebih berkuasa, alhasil….pulang dengan folder foto bermuka minyakan. Damn.

3. Jogja memang “ramah”

Jogja memang ramah, jika kamu tidak naik sepeda dan belanja diatas 5000 rupiah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s